Banjir dan Tanah Longsor Terjang Enam Desa di Trenggalek

Trenggalek, JurnalSultra.com – Bencana hidrometeorologi basah yakni banjir dan tanah longsor menerjang enam desa di Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur pada Jumat (7/10), pasca hujan deras pukul 04.00 WIB.

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat enam desa terdampak peristiwa tersebut meliputi Desa Tamanan di Kecamatan Trenggalek; Desa Karangrejo, Bogoran, Senden, Ngadimulyo di Kecamatan Kampak; serta Desa Wonocoyo di Kecamatan Panggul.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek turut melaporkan sebanyak 210 rumah terdampak banjir dengan tinggi muka air mencapai 50 sentimeter serta longsoran tanah yang menyebabkan kerusakan beberapa rumah warga.

Adapun kondisi saat ini hujan masih mengguyur wilayah terdampak, dan warga tetap bertahan di tempat tinggal masing-masing. BPBD Kabupaten Trenggalek terus melakukan pendataan lebih lanjut dan melakukan pengawasan di lokasi kejadian.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini waspada hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang pada malam hari untuk wilayah Kabupaten Trenggalek. Kajian inaRisk turut menunjukan Kabupaten Trenggalek memiliki potensi bahaya banjir dengan tingkat sedang sampai tinggi yang berdampak pada 12 kecamatan.

Sementara itu, berdasarkan analisis gerakan tanah dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kecamatan Kampak dan Panggul termasuk dalam wilayah dengan potensi gerakan tanah tingkat menengah hingga tinggi, sedangkan Kecamatan Trenggalek termasuk dalam kategori menengah hingga tinggi dengan potensi banjir bandang dan aliran bahan rombakan (debris flow).

Menyikapi hal di atas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat dan perangkat daerah setempat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang khususnya saat dan setelah  hujan lebat dalam kurun waktu lebih dari satu jam.

Pemerintah daerah setempat agar melakukan pengawasan pada pemukiman warga yang dekat dengan lereng bukit atau tebing serta memberikan informasi secara berkala khususnya rekomendasi evakuasi jika hujan telah berlangsung lama.

Jika terjadi peningkatan tinggi muka air di sekitar pemukiman warga, masyarakat dapat lebih dahulu mematikan aliran listrik dan berkoordinasi dengan perangkat desa setempat untuk melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *