Pembahasan Terjemahan Al Qur’an Dalam Bahasa Tolaki Diapresiasi Oleh Kakanwil Kemenag Sultra

Kendari, JurnalSultra.com – Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, H. Zainal Mustamin menghadiri Pembahasan Hasil Terjemahan Al Quran Kedalam Bahasa Tolaki yang diselenggarakan Puslitbang Lektur Khazanah Keagamaan dan IAIN Kendari, kamis, (28/7/2022).

Kegiatan yang dibuka Rektor IAIN Kendari, Prof. Dr. Faizah Binti Awad turut dihadiri Kepala Pusat Puslitbang Lektur, Khasanah Keagamaan dan Manajemen organisasi Kemenag RI diwakili oleh Koordinator Bidang Puslitbang LKKMO Dr. Bahari,  MA, Ketua Senat IAIN Kendari Prof Dr.  Zulkifli Mustan,  M. Pd, Ketua Umum DPP Lembaga Adat Tolaki Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. H. Masyur Masie Abunawas, M. Si, tim dari Puslitbang dan IAIN, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan Akademisi.

Dalam sambutannya, Kakanwil H. Zainal Mustamin menyampaikan apresiasi Kepada Puslitbang dan IAIN Kendari yang menjadikan bahasa Tolaki sebagai objek terjemahan Al Quran.

Dikatakannya, dari 17 Kab/ kota di Sulawesi Tenggara, terdapat sembilan daratan yang mendiami Sultra dengan bahasa utamanya yaitu bahasa tolaki termasuk ibu Kota Prov. Sultra yaitu Kota Kendari, sebagai pusat pemerintahan provinsi, dimana bahasa tolaki menjadi bahasa yang besar di daratan kota kendari ini. 

“Sehingga saya kira Ibu Rektor bersama tim dan Pusdiklat tepat sekali untuk memilih hal tersebut, tapi mudah-mudahan bukan hanya sampai disini, kita juga bisa menerjemahkan Al-Qur’an kedalam bahasa Buton, Muna, Moronene, dan sebagainya,” ujar Kakanwil.

[poll id=”3″]

Diungkapkan Kakanwil, kurang lebih 67 persen bahasa tolaki digunakan di Sultra. Sehingga Kakanwil mengapresiasi kerja-kerja penulis dan penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Tolaki. Menurutnya, agama  tidak hadir diruang yang hampa, namun bersentuhan dengan budaya yang sudah hidup dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Karena itu proses Islamisasi Budaya berjalan dan salah satu yang memperkuat hal itu adalah referensi tentang Al-Qur’an yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Tolaki. 

Kakanwil menambahkan, hampir keseluruhan fase kehidupan masyarakat Tolaki mulai dari lahir, menikah sampai meninggal itu selalu memiliki pengawalan dari proses proses adat yang senantiasa terjaga di masyarakat. Ini bagian dari proses didalam mendidik dan mengedukasi masyarakat, untuk terus melakukan kegiatan positif ini sehingga kita punya referensi yang sangat berharga, untuk menjaga khasanah budaya Tolaki di masa depan agar tidak tergerus oleh ancaman kemajuan IPTEK.

“Jadi ikhtiar ini sangat luar biasa. Saya kira dengan Kalosara yang mengikat kita dan hidup berdampingan secara damai bagi semua penganut suku dan agama di Sulawesi Tenggara ini sudah berlangsung cukup lama, kalau ditanah Tolaki ini tentu dengan Kalosara, ini yang harus terus dijaga,” imbuhnya.

Dalam tradisi Tolaki, terbangun tradisi Mepokoaso Medulu ronga Meohai , yang terus dijaga. Dan ini menjadi inspirasi di Kanwil Kemenag Sultra yang kemudian diangkat menjadi tagline 3B (Bersama, Bersatu, Bersaudara). Tagline ini mengikat kita di Kanwil Kemenag Sultra, tradisi mepokoaso menyatukan semua untuk mencapai cita cita. 

“Sejak dulu, banyak orang luar dengan berbagai latar belakang suku dan agama, masuk dan melakukan perkawinan di Sultra, semuanya diterima dengan baik. Hingga saat ini kerukunan tetap terawat, sehingga ini benar-benar merupakan inspirasi dari apa yang dikembangkan saat ini, yang disebut dengan Moderasi Beragama,” jelasnya.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *