Kolaka Utara Bidik Pasar Australia Lewat Hilirisasi Kakao, Kelapa dan Cengkeh

Surabaya, JurnalSultra.com – Potensi komoditas perkebunan Kabupaten Kolaka Utara kembali menjadi perhatian dalam Kolaka Utara Industry, Trade & Investment Forum 2026 yang digelar di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama, Senin (11/5/2026).

Dalam forum yang mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha dan investor itu, peluang kerja sama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Australia menjadi salah satu pembahasan utama. Materi tersebut dipaparkan perwakilan Australian Trade and Investment Commission (AUSTRADE), Aris Pratama, melalui tema Indonesia-Australia Partnership in Key Commodities: Cacao, Coconut, Clove.

Aris menilai Kolaka Utara memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekspor melalui pengembangan hilirisasi komoditas unggulan seperti kakao, kelapa dan cengkeh.

Menurutnya, hubungan perdagangan Indonesia dan Australia terus berkembang, terutama pada sektor pangan dan agribisnis berbasis produk bernilai tambah.

“Indonesia dan Australia memiliki peluang besar membangun kemitraan perdagangan dan investasi berkelanjutan melalui komoditas pertanian bernilai tambah,” kata Aris dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia dengan industri pengolahan yang terus berkembang. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi daerah penghasil kakao, termasuk Kolaka Utara, untuk masuk ke pasar premium internasional.

Data yang dipaparkan AUSTRADE menunjukkan kebutuhan impor kakao Australia diperkirakan meningkat dari sekitar 709 juta dolar Amerika Serikat pada 2021 menjadi 1,38 miliar dolar AS pada 2025. Produk yang paling banyak dibutuhkan meliputi cocoa butter, pasta kakao dan bubuk kakao.

Sejumlah perusahaan besar Australia seperti Cadbury Australia, Nestle, Mars, Arnott’s hingga Haigh’s Chocolate disebut menjadi pasar potensial bagi produk hilirisasi kakao asal Indonesia.

Aris mengatakan produk kakao premium dari daerah seperti Kolaka Utara memiliki peluang besar menembus pasar internasional apabila didukung pengolahan berkualitas dan rantai pasok yang berkelanjutan.

Selain kakao, komoditas kelapa juga dinilai memiliki prospek besar seiring meningkatnya permintaan global untuk kebutuhan makanan, minuman dan industri kosmetik.

Australia diproyeksikan meningkatkan impor produk kelapa dari 22 juta dolar AS pada 2021 menjadi sekitar 31,5 juta dolar AS pada 2025. Produk yang banyak diminati antara lain desiccated coconut dan berbagai produk turunan kelapa lainnya.

Menurut Aris, Indonesia memiliki keunggulan karena didukung sumber daya kelapa yang melimpah serta potensi pengembangan produk hilir yang beragam.

Sementara itu, untuk komoditas cengkeh, Indonesia masih menjadi produsen terbesar dunia dengan permintaan pasar yang terus tumbuh untuk kebutuhan industri makanan, minuman hingga farmasi.

Australia diperkirakan meningkatkan impor cengkeh dari 1,3 juta dolar AS pada 2021 menjadi sekitar 1,6 juta dolar AS pada 2025 dengan pasokan utama berasal dari India, Indonesia dan Vietnam.

Dalam forum tersebut, AUSTRADE juga mendorong penguatan kerja sama langsung antara pelaku usaha Indonesia dan investor Australia melalui business matching, pengembangan investasi bersama, serta pemanfaatan skema Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Aris menekankan pentingnya penguatan rantai pasok berkelanjutan dan penerapan standar Environmental, Social and Governance (ESG) untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

“Kolaborasi di bidang teknologi pertanian, inovasi pangan dan rantai pasok berkelanjutan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di masa depan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *