Jakarta, JurnalSultra.com – Dukungan terhadap upaya pemerintah menciptakan ruang digital yang aman bagi anak terus mengalir. Yayasan Puteri Indonesia bersama jajaran Puteri Indonesia 2026 menyatakan komitmennya untuk mendukung sosialisasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).
Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, dengan enam finalis Puteri Indonesia 2026 yang dipimpin Ketua Dewan Pembina Yayasan Puteri Indonesia, Putri Kus Wisnu Wardani, di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Dalam pertemuan itu, Meutya Hafid menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital menjadi salah satu prioritas pemerintah di tengah tingginya penggunaan internet dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Menurutnya, anak-anak menghadapi berbagai risiko di dunia digital, mulai dari paparan konten yang tidak sesuai usia, interaksi dengan orang asing, hingga kecanduan penggunaan platform digital.
“Perlindungan anak di ruang digital harus melihat profil risiko yang dihadapi anak, mulai dari risiko kontak, risiko konten, hingga risiko kecanduan. Karena itu PP TUNAS mengatur langkah perlindungan yang proporsional sesuai tingkat risiko platform,” ujar Meutya.
Pemerintah mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 229 juta orang dengan rata-rata waktu penggunaan lebih dari tujuh jam per hari. Kondisi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan sistem perlindungan yang kuat bagi anak dan remaja.
Selain itu, meningkatnya tantangan kesehatan mental pada anak dan remaja menjadi alasan penting perlunya kolaborasi berbagai pihak dalam membangun ekosistem digital yang sehat dan aman.
Dukungan terhadap PP TUNAS juga disampaikan Agnes Aditya Rahajeng. Ia menilai regulasi tersebut menjawab kekhawatiran masyarakat terkait berbagai ancaman yang mengintai anak-anak di internet.
“Anak di bawah umur rentan terhadap bahaya pornografi, pelecehan seksual, dan bullying di media sosial. Meskipun media sosial menjadi sarana informasi yang sangat kuat, tetap diperlukan pengawasan dan perlindungan,” katanya.
Sementara itu, Putri Kus Wisnu Wardani menilai pola tumbuh kembang anak saat ini mengalami perubahan signifikan dibanding generasi sebelumnya. Anak-anak dinilai lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dibandingkan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Karena itu, Yayasan Puteri Indonesia menyatakan siap mendukung berbagai program edukasi guna meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan anak di ruang digital.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Gisella Agnes Silalahi berencana turun langsung ke sekolah-sekolah untuk menyosialisasikan PP TUNAS kepada para pelajar.
“Saya ingin ikut menyosialisasikan PP TUNAS ke sekolah-sekolah dan menggaungkan isu perlindungan anak di forum internasional agar menjadi gerakan global,” ujarnya.
Dukungan serupa juga datang dari jajaran Puteri Indonesia 2026 lainnya, yakni Victoria Titisari Koesasi Putri, Karina Moudy Widodo, Glorya Stevany Yame Nayoan, dan Athalla Hartiana Putri Hardian.





