Kolaka, JurnalSultra com – Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Edukasi Tanaman Obat Lokal dan Cara Pengolahan Tanaman Obat yang Aman dan Benar” yang digelar di Aula Kantor Kelurahan Sabilambo, Kabupaten Kolaka, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian utama dari Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026 dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Edukasi Potensi Tumbuhan Lokal sebagai Obat Tradisional dan Pemanfaatan Teknologi Deteksi Dini Kesehatan untuk Mendukung Kemandirian Kesehatan Keluarga.”
Program ini mencakup tiga kegiatan utama, yakni edukasi tanaman obat lokal dan pengolahannya yang aman, pembuatan serta penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA), serta pelatihan penggunaan teknologi kesehatan modern untuk deteksi dini kesehatan dasar.
Kegiatan tersebut selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta SDG 15 tentang pelestarian ekosistem daratan. Program ini juga mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi serta sejalan dengan Asta Cita keempat dalam penguatan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Tim pelaksana kegiatan terdiri atas dosen dan mahasiswa lintas program studi di USN Kolaka. Ketua tim kegiatan adalah Megawati, S.Si., M.Si. dari Program Studi Kimia. Ia didampingi anggota tim Carla Wulandari Sabandar, S.Si., M.Sc. dari Program Studi Farmasi dan Yuniarti Ekasaputri Burhanuddin, S.Keb., M.Keb. dari Program Studi D3 Keperawatan.
Selain itu, kegiatan turut melibatkan mahasiswa Program Studi Kimia, yakni Melynda Eka Widya Ningsih dan Nurfadilla Arsyla.
Peserta kegiatan merupakan 10 orang kader Posyandu Kelurahan Sabilambo yang menjadi mitra dalam program pemberdayaan masyarakat tersebut.
Turut hadir dalam kegiatan itu Lurah Sabilambo, Sumanda, SH, serta Kepala Pusat Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USN Kolaka, Dr. Ir. Hj. Ramlah S., M.Si., yang mewakili Ketua LPPM USN Kolaka untuk membuka kegiatan secara resmi.
Materi edukasi disampaikan oleh Apt. Harni Sartika Kamaruddin, S.Si., M.Si., Apt. Alfiranty Yunita, S.Farm., M.Farm., dan Ari Dwiyanti, S.Farm., M.Farm., bersama tim mahasiswa Farmasi.
Dalam penyuluhan tersebut, peserta diperkenalkan berbagai jenis tanaman obat lokal khas Sulawesi Tenggara yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai obat tradisional berbasis ilmiah. Tanaman yang diperkenalkan antara lain Patikala (Etlingera elatior), Songi (Dillenia serrata), Rumput Ayam (Peperomia pellucida), Nilam (Pogostemon cablin), Olae (Etlingera calophrys), Kunyit (Curcuma longa), Jahe (Zingiber officinale), dan Temu Mangga (Curcuma amada).
Narasumber menjelaskan bahwa tanaman-tanaman tersebut memiliki kandungan senyawa aktif yang berpotensi sebagai antimikroba, antiinflamasi, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Setelah sesi penyuluhan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Para kader Posyandu diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman, mengajukan pertanyaan, serta mendalami teknik pemanfaatan tanaman obat yang tepat, termasuk dosis penggunaan, metode pengolahan, penyimpanan bahan herbal, hingga peluang pengembangan usaha berbasis tanaman obat.
Sebagai bentuk praktik langsung, peserta diajak mengolah tanaman obat menjadi produk jamu tradisional. Dua jenis jamu yang dipraktikkan dalam kegiatan tersebut adalah Jamu Manjaku dan Jamu Sinom.
Jamu Manjaku dibuat dari manjakani (Quercus infectoria), asam jawa, kunyit, daun sirih, dan gula aren. Minuman herbal ini dikenal memiliki manfaat untuk membantu menjaga kesehatan area kewanitaan, mendukung daya tahan tubuh, menjaga kesehatan pencernaan, serta memberikan kesegaran dalam aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, Jamu Sinom diracik menggunakan daun asam muda (sinom), asam jawa, gula aren, kencur, temu mangga, kapulaga, kayu manis, dan jahe. Jamu ini dipercaya membantu melancarkan pencernaan, menjaga sistem imun, dan meredakan panas dalam.
Pada sesi praktik, peserta diajarkan mulai dari pemilihan bahan baku, pencucian, perajangan, proses perebusan dan ekstraksi sederhana, hingga teknik pengemasan yang higienis. Kader Posyandu terlibat langsung dalam seluruh tahapan sehingga memperoleh keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
Salah seorang kader Posyandu mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan banyak manfaat, mulai dari bertambahnya pengetahuan mengenai jenis tanaman obat, cara menanam dan merawat tanaman herbal, hingga keterampilan mengolahnya menjadi jamu.
Selain membantu menjaga kesehatan keluarga dengan memanfaatkan tanaman yang tersedia di sekitar rumah, penggunaan tanaman obat juga dinilai lebih hemat dan turut melestarikan tradisi pengobatan herbal yang telah diwariskan secara turun-temurun.




